https://cilacap.times.co.id/
Berita

Kisah Masjid di Pinggiran Malang, Mulai Bekas Bangunan Tak Terpakai Hingga Syiar Mualaf

Sabtu, 05 April 2025 - 22:51
Kisah Masjid di Pinggiran Malang, Mulai Bekas Bangunan Tak Terpakai Hingga Syiar Mualaf Tampak jemaah yang singgah di Masjid Cheng Ho Goa Cina Sitiarjo Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang. (FOTO: Amin/TIMES Indonesia)

TIMES CILACAP, MALANG – Keberadaan sejumlah masjid ataupun mushala di wilayah terpencil Kabupaten Malang menyimpan kisah menarik. Salah satunya, menjadi pusat dakwah untuk perjuangan spiritual para mualaf. 

Tempat ibadah yang telah melahirkan dan menguatkan keyakinan para mualaf ini adalah Masjid Muhammad Cheng Ho yang ada di kawasan Panti Goa Cina di Desa Sitiarjo, Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang. 

Priyon.jpgPengurus harian Masjid Cheng Ho Sitiarjo, H. Priyono. (FOTO: Amin/TIMES Indonesia) 

Dalam kunjungan TIMES Indonesia belum lama ini ke Masjid Cheng Ho Sitiarjo, pengurus Masjid Cheng Ho mengungkapkan, keberadaan masjid tersebut menjadi pusat persebaran syiar Islam bagi masyarakat di daerah setempat. 

Wilayah Desa Sitiarjo, Sumbermanjing Wetan dan sekitarnya sendiri memang dikenal sebagai daerah minoritas warga muslim. 

"Kawasan Desa Sitiarjo dulu 89 persen warganya non muslim. Dan, kini sudah banyak yang menjadi mualaf. Masjid Cheng Ho Sitiarjo ini sering digunakan dan jadi kiblat muslim PITI (Persatuan Islam Tionghoa Indonesia) Malang Raya," terang pengurus harian Masjid Cheng Ho Sitiarjo, H. Priyono. 

Representasi Muslim Tionghoa

Diungkapkan, Masjid Cheng Ho Sitiarjo dibangun 90 persen dari bantuan warga muslim Tionghoa yang merupakan mualaf. 

Pemberian-santuan-usai-kajian-pemahaman-Islam.jpgPemberian santuan usai kajian pemahaman Islam dari LDK PDM Kabupaten Malang kepada mualaf di Desa Tamansatriyan, Tirtoyudo, Kabupaten Malang. (FOTO: dokpri/for TIMES Indonesia) 

"Masjid ini dibangun mulai 2018. Awalnya, ditemukan 2017, masih berupa bangunan tak terawat, tiga tahun mangkrak dari batako. Luasnya saat itu, hanya 9 x10 meter persegi," terangnya. 

Menurut Priyono, pembangunan Masjid Cheng Ho di awal-awal tidak terlepas dari pertentangan dan perbedaan pemikiran masyarakat setempat. Akan tetapi, seiring waktu gesekan dalam arti bukan fisik yang muncul sudah hilang dengan sendirinya. 

Meski demikian, menurutnya gesekan pemikiran (pemahaman) yang muncul di awal-awal itu adalah hal wajar. 

Peran seorang perwira TNI, saat itu berpangkat Jenderal Suntoro dari Jakarta, sangat berperan, yang ikut peduli dan membantu proses pembangunan Masjid Cheng Ho. 

Terkait alasan dibangun di wilayah Sitiarjo, kata Priyono, tidak terlepas dari keberadaan Pantai Goa Cina yang memang banyak didatangi warga keturunan Tionghoa. 

"Karena fasilitas di Pantai Goa Cina kurang representatif bagi wisatawan, terutama warga muslim Tionghoa, maka masjid ini dibangun. Masjid ini berkonsep vacancy, tempat singgah wisatawan," terangnya. 

Masjid Cheng Ho Sitiarjo sendiri adalah yang ke-11, dari 15 Masjid Cheng Ho se Indonesia. Saat ini, Masjid Cheng Ho Sitiarjo menempati lahan seluas 3 ribu meter persegi kawasan milik Perhutani. Namun, belum bisa sertifikasi lahan dan sifatnya hak guna pakai.

Perkembangan syiar Islam dan jumlah mualaf warga sekitar yang terus bertambah, kata Priyono, juga tidak terlepas dari keberadaan ponpes milik pengasuh Ustadz Deden. Dimana, ponpes ini punya TPQ, sekolah full daya, dan usaha pengolahan air minum. 

"Program rutin muslim Tionghoa dari PITI pusat di Surabaya, berupa bantuan santunan sebesar Rp 300 ribu/orang untuk 1.000 warga (muslim mualaf) sekitar," terang pria yang sehari-hari tinggal di Kota Malang ini. 

H. Priyono sendiri mengaku sudah lima tahun lebih nengabdikan diri mengurus Masjid Cheng Ho Sitiarjo. Ia datang tiap Sabtu dan Minggu, dan tidur di rumah pengurus atau penjaga Masjid Cheng Ho tersebut. 

"Saya niatkan bisa mengelola sampai tutup usia. Memang harus ada semangat dan ekonomi yang cukup, untuk bisa mendedikasikan waktu untuk masjid Cheng Ho ini," ungkapnya. 

Syiar Mualaf dari Tirtoyudo

Aktivitas bagi para mualaf lainnya, berada di daerah terpencil perbatasan Kabupaten Malang dan Lumajang. Tepatnya, di dusun kecil yang ada di Desa Tamansatriyan Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang. 

Seperti diungkapkan Ustadz Ajang Kusmana, ada sedikitnya 100 mualaf yang merupakan warga di satu dusun di wilayah Desa Tamansatriyan Tirtoyudo. 

"Fokus dakwah dan perhatian yang harus diberikan di daerah tersebut adalah memberikan pembinaan, pemahaman, santunan juga pemberdayaan para mualaf di sana. Jumlahnya kurang lebih ada 100 orang," jelas Ajang, Sabtu (5/4/2025). 

Diungkapkan, para mualaf ini sebelumnya adalah sepenuhnya warga non-muslim yang kemudian berpindah agama dan keyakinan pada Islam. 

Awalnya, pemahaman islam di daerah terpencil ini dibawa seorang ulama asal Kabupaten Lumajang, ustadz Suherman, yang kemudian beristerikan warga setempat. Kemudian, ia berhasil mengajak isterinya masuk Islam, disusul kedua mertuanya. 

"Para mualaf dari wargsendirn di Desa Tamansatriyan ini dalam pembinaan Ustadz Suherman asal Lumajang. Di tempatnya, mereka diajak mengaji, berpusat di masjid namanya Ar Rahman, dari tanah wakaf lalu dibangun musala/masjid bagi para mualaf itu," terang pria dari Lembaga Dakwah Khusus Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Malang ini. 

Untuk menuju dusun terpencil para mualaf tersebut, harus menempuh akses jalan makadam yang letaknya berada berbatasan juga dengan wilayah Kecamatan Poncokusumo paling selatan. 

Dalam satu dusun di Tamansatriyan Tirtoyudo ini sendiri, pusat dakwah bagi para mualaf ini juga dikelilingi setidaknya 7 (tujuh) gereja. 

"Tantangan tersendiri untuk melakukan syiar Islam di dusun terpencil tersebut. Tetapi, para mualaf di sana benar-benar berangkat dari pemahaman keyakinan, bukan untuk mendapatkan sesuatu," demikian Ustadz Ajang Kusmana. (*) 

Pewarta : Khoirul Amin
Editor : Ronny Wicaksono
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Cilacap just now

Welcome to TIMES Cilacap

TIMES Cilacap is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.